Renungan: Belajar Dari Semut

Waktu itu malam minggu. Ordo Sabtu Suci baru saja melepas lelah, lapar, dan dahaga. Berlima, mereka duduk di tengah taman dengan sorot lampu yang hanya satu: membiarkan angin memberi sedikit bagian darinya untuk dihirup.

Untung masih banyak misteri yang bertebaran di dunia, dalam hidup ini. Kadang mata memang tak sengaja menangkap secuil misteri-misteri yang bertebaran itu. Aku melihat sudut tangga kecil di taman yang sedikit berserakan daun kering dan beberapa helai plastik chiki. Ada yang jarang sekali kutemui: koloni semut yang sedang berburu makanan. Betapa beruntungnya. Hari itu, tidak hanya di dunia kata secuil cahaya berhasil disingkap, alam sungguh indah dengan beragam kehidupan di dalamnya yang berhasil ditangkap kedua bola mata.

Dari sudut tangga, segerombol semut keluar dari sarangnya untuk mengejar sejenis belalang yang lari menghindar. Potret kehidupan yang indah disimak hadir, untungnya tidak dalam kotak TV lagi. segerombol itu berlarian cukup kencang, namun masih memiliki jarak untuk menyergap serangga itu. Bantuan datang, tanpa komando yang kami dengar, dari berbagai arah di jalan setapak. Kawanan semut lainnya menyergap dari arah samping dan depan. Serangga itu mulai payah. Sepertinya gigitan-gigitan semut memang ampuh. Gerombolan dari arah sarang akhirnya berhasil menyergap serangga, ditambah bala bantuan yang terpencar dari arah lain. Namun, serangga itu masih berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari sergapan gerombolan semut yang, sepertinya, lapar itu. Apa daya, semakin banyak sengatan dan gigitan yang sang serangga terima, semakin lemahlah ia. Akhirnya serangga itu tersungkur juga. Hanya sesekali tubuhnya bergerak: bahasa perpisahan yang getir. Gerombolan semut sudah berhasil menguasai buruannya. Serangga itu sudah tak bergerak. Kami yang tidak tahu apa-apa mengira serangga itu sudah mati dan kini giliran bagaimana gerombolan semut membawa tubuh serangga itu untuk diolah menjadi makanan bagi koloninya.

Kami, manusia, tidak mengetahui bagaimana semut mengorganisir kegiatan berburunya. Dalam hening konsentrasi kami, sesekali keluar kelakar, “woi komandonya mana ya?”, “roger…roger…buruan tumbang, sisi kanan angkat kepala..sisi kiri bagian kaki…”. Tawa menyelingi khidmat dan rasa syukur kami kepada alam. Saat itu sungguh tenang, tanpa beban. Di saat pikiran kami bertualang ke lembah dan puncak gunung kering, melihat dan mengalami berbagai kejadian pilu dan membuat sakit hati, dan kembali ke lorong kosong di mana kami bercerita, kesal, dan mengutuki semua yang kami benci.

Nampaknya gerombolan semut telah mengambil posisi untuk mengangkut buruan. Mereka berputar-putar di tempat buruan tumbang, mencari jalan untuk membawanya ke sarang mereka. Kami makin memperhatikan, mengambil jarak dan posisi nyaman untuk mengamati kejadian ini. Mereka masih saja berputar-putar di tempat yang sama, kadang buruang diarahkan ke kiri dan mulai berjalan namun seketika malah berbalik arah. Oh, kami, manusia, mengira mereka mencoba mencari jalan yang lapang untuk ditempuh. Logika manusia kami berbicara: daripada menempuh jalan penuh halangan lebih baik menempuh jalan yang tanpa halangan, bukan? Tapi, dasar manusia, logika itu tak berarti buat para semut. Mereka malah mengambil jalan yang dipenuhi rumput dan daun-daun kering. Tentu itu jalur yang sulit ditempuh, apalagi dengan bawaan yang jauh lebih besar dan berat dari mereka. Kami pikir, begitulah alam bergerak, seluruhnya diliputi misteri bagi kami. Kami pikir, dengan logika tadi, alangkah egoisnya manusia. Sepertinya alam memiliki jalannya sendiri. Oh, bukankah itu yang manusia coba selama ini untuk disingkap melalui ilmu pengetahuan? Ketika salah satu dari kami berkata, “eh, coba bantu singkirin halangan si semut itu”, yang dijawab, “jangan, biarin aja mereka punya caranya sendiri, kita kan gatau apa yang mereka pikirin”, saat itulah ada yang mengena dalam hati. Mereka, para semut, punya cara hidup sendiri, yang mungkin telah dan selalu mereka lakukan sepanjang keberadaan mereka di bumi ini. Sedangkan kami, manusia, memang punya cara dan jalan sendiri juga untuk hidup, tapi dengan banyak menghancurkan dan mengorbankan makhluk hidup lain. Tidak hanya makhluk hidup lain, bahkan sesama manusia sendiri. Sedangkan mereka, para semut, sejauh pengetahuanku, dengan cara dan jalan yang ditempuh tanpa merusak alam tempat mereka hidup. Sejauh pengetahuanku selama aku hidup, tidak pernah ada kerusakan alam yang dilakukan oleh semut. Melihat semut-semut itu berjuang untuk membawa buruannya, aku berpikir, memang kitalah manusia yang aneh. Para semut melakukan hal itu sepanjang keberadaannya. Dalam sebuah ekosistem, makhluk hidup mempunyai cara hidup dan bentuk adaptasi masing-masing dalam menyelaraskan diri dengan dan perubahan di alam. Tapi manusia, agak aneh. Ia punya cara hidup dan bentuk adaptasi juga, menyelaraskan diri dengan alam juga, sekaligus berkontribusi besar sekali dalam perubahan, perusakan, yang terjadi di alam. Aku terkesan tak membela manusia? Oh, lihatlah apa yang manusia perbuat semenjak 10.000 tahun yang lalu. Lihatlah yang manusia perbuat semenjak revolusi industri. Lihatlah yang manusia perbuat semenjak mereka tahu dalam perut bumi terdapat minyak dan materi berharga lainnya. Oh, belalah manusia, wahai diriku. Memang manusia juga berusaha berbuat baik pada alam. Ya, banyak usahanya. Dan kebanyakan karena ulah merusak yang manusia sebabkan.

Aku mencoba membayangkan bumi ini sebelum manusia ada. Memang terjadi perubahan-perubahan lingkungan yang radikal. Dari rimba tropik menjadi gurun. Dari daratan menjadi lautan. Dari yang rindang jadi kering kerontang. Tapi, kupikir begitulah gerak alam. Seluruh komponen hidup yang ada di bumi ini menyesuaikan diri dengannya. Termasuk manusia. Manusia yang menurutku egois dalam bertindak. Lantas, apa memang begini, seperti yang telah terjadi saat ini yang disebut cara hidup dan adaptasi manusia? Apa memang harus membuahkan kerusakan pada yang mereka tinggali? Aku rasa ini sungguh aneh. Sangat aneh. Dan manusia sungguh egois hanya karena mereka berpikir mereka berkuasa atas alam saat ini. Oh, malang. Cobalah lihat sejarah bumi, baru berapa lama sih manusia hidup? Baru berapa lama manusia berhasil „menaklukkan“ alam? Baru berapa lama manusia bisa membuat bangunan super-megah dan raksasa? Tak seberapa dibanding dengan umur bumi, tak secuil dibanding dengan umur alam semesta. Dan hanya di waktu-waktu yang singkat itulah, yang hanya sekitar 100-200-500 tahun manusia sombong dan berlaku angkuh terhadap makhluk hidup lain dan bumi.

Sudah lebih dari satu jam semenjak perhatian kami tersita pada usaha gerombolan semut untuk memindahkan buruannya. Selama satu jam itu, mereka hanya berputar-putar di tempat, paling banter jalan beberapa langkah, itu pun dengan arah yang blah bloh melulu. Seorang teman bicara, “eh, ini bisa semaleman loh mindahin buruan ke sarangnya”. Perlu waktu lama dan rasa sabar yang cukup untuk mengamati satu kejadian saja. Lelah dan kantuk mulai menyerang kami, apalagi bagi yang harus pulang menempuh jalur balap truk jalan raya Bandung-Sumedang di malam hari. Seorang teman berkelakar lagi, “woi jangan-jangan mereka sebenernya punya armada angkutan khusus yang ngangkut buruannya..mereka malu aja kali klo kelihatan ama kita…kebayang dong bakal cengo…itu ntar bakal jadi berita top di dunia anjir”, yang lain menimpali, “tapi pasti ga ada yang percaya, paling-paling nganggap kita gila….hahaha, ya emang gila kalo itu beneran ada”.

“…tidak pusing dengan segala derita, tidak punya tujuan apapun juga” Richard Dawkins

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

How Art Made the World (bag. 1)

“Culture is king”

Kebudayaan adalah raja. Satu kalimat yang diucapkan oleh Dr. Nigel Spivey ini adalah kunci untuk membuka penjelasan mengenai seni, terutama pada latar sebuah karya serta hubungan antara seni dan sang seniman.

Sebuah karya seni bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya, bukan sesuatu yang serta-merta mengada tanpa muasal. Seseorang bisa mengatakan “seni untuk seni” dalam penilaiannya terhadap sebuah karya. Bahkan bisa dikesampingkan maksud atau tujuan sang seniman di dalam karyanya; melihat karya sebagai nuansa estetika semata. Namun, sekalipun seni itu tampak sebagai karya yang dinilai tidak memiliki muatan nilai, maksud, atau tujuan apapun, kehadirannya tak bisa kita pisahkan dengan sebuah representasi terhadap sesuatu dari diri sang seniman. Selalu terdapat latar di balik berdirinya sebuah karya seni.

Sebuah karya merupakan representasi atas sesuatu. Representasi atas apa yang dialami dan dirasakan seniman. Representasi tersebut dapat berupa bentuk-bentuk yang kita lihat sebagai sesuatu yang realistis atau yang tidak realistis. Representasi tersebut bisa berupa bentuk-bentuk yang sesuai dalam kehidupan nyata seperti patung singa atau manusia, atau berupa bentuk-bentuk yang tidak pernah terdapat dalam kehidupan nyata seperti wajah yang meleleh layaknya lilin atau tubuh manusia dengan kepala tikus.

Dalam film dokumenter ini, kita digiring untuk melihat latar lahirnya sebuah karya seni—latar atas lahirnya sebuah representasi. Perjalanan untuk melihat latar lahirnya karya seni dimulai dari penelusuran terhadap citra tubuh manusia sebagai sebuah citra yang telah mendominasi kehidupan manusia.

Sejak masa 25.000 tahun yang lalu manusia menciptakan karya yang menampilkan citra tubuh manusia dan pada kenyataannya cenderung tidak realistis. Seperti pada patung Venus von Willendorf, tubuh manusia—perempuan—yang ditampilkan dengan melebih-lebihkan (exxagerate) ukuran bagian tertentu seperti pada payudara, perut, pinggul, pantat, dan alat kelaminnya. Hal itu terlihat kontras karena bagian tubuh lain seperti wajahnya tidak terlihat dan lengannya pun hampir tidak terlihat. Dengan citra seperti itu, patung ini mungkin merupakan simbol kesuburan atau ibu.

Kita dapat melihat alasan di balik lahirnya citra tubuh seperti itu. Patung tersebut merupakan temuan yang berasal dari kelompok manusia nomaden yang masih hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan. Pada masa itu, manusia hidup dengan mengandalkan kebaikan alam. Mereka belum bisa memproduksi makanan sendiri. Pembagian kerja terjadi antara laki-laki yang pergi berburu dan perempuan yang bertugas mengumpulkan makanan di sekitar area tinggal mereka. Selama masa berburu yang seringkali memerlukan waktu lama, perempuan memiliki peranan besar bagi kelompok karena melalui mereka kebutuhan makan sehari-hari terpenuhi. Perempuan penting karena melalui mereka reproduksi kelompok terjadi. Mereka pun cenderung memiliki peranan lebih besar dalam merawat dan membesarkan anak karena para laki-laki lebih sering pergi berburu. Hal ini merupakan sebuah latar—kebudayaan manusia di mana lahirnya karya seni pada masa itu.

Bagitu pula halnya dengan citra tubuh di masa peradaban awal. Karya seni orang Mesir pada zaman Firaun menampilakan citra tubuh yang cenderung kaku dan skematis. Selama ribuan tahun gaya melukis seperti itu tidak berubah. “Citra mereka terdorong oleh obsesi bersama yang konsisten dan teratur”. Hal tersebut merupakan representasi dari ketatnya aturan dan stratifikasi sosial masyarakat Mesir. Hirarki yang ketat ditampilkan dari piramida mereka (berbentuk segitiga, bagian atas yang mengerucut) yang tersohor, yang dibuat dengan perhitungan matematis sehingga menghasilkan struktur yang rapih dan teratur.

Lain halnya dengan seni orang Mesir, citra tubuh orang Yunani purba terlihat berupaya realistis. Mereka selalu menampilkan citra tubuh yang atletis dan menyerupai bentuk asli. Tubuh yang sempurna adalah tubuh yang atletis. Hal ini didasarkan atas kepercayaan mereka bahwa dewa-dewa mengambil rupa manusia dan memiliki tubuh yang indah. Dengan berusaha memiliki tubuh ideal itu, orang Yunani merasa seolah memiliki sifat ketuhanan. Bentuk karya seni tubuh manusia mereka berkembang agar dapat sesuai dengan tubuh asli manusia. Sebuah karya yang merupakan representasi dari bentuk nyata.

Tidak heran mengapa patung-patung Yunani sangat terkenal. Para seniman purba mereka merevolusioner gaya pembuatan patung hingga menyerupai bentuk dan ukuran asli tubuh manusia. Criteon Boy adalah pencapaian tersebut. Patung itu menampilkan bentuk yang sesuai dengan bentuk asli tubuh manusia. Namun, representasi sesuai bentuk asli itu tak bertahan lama. Para seniman tidak puas dengan bentuk tersebut karena nuansa estetis yang dihasilkannya ternyata biasa-biasa saja. Malah, penemuan setelah Criteon Boy memperlihatkan bentuk patung yang lebih menonjolkan lekuk dan otot sehingga menampilkan citra tubuh kekar yang lebih menggugah. Pada kenyataannya, bentuk tubuh yang lebih menggugah itu tidak lagi sesuai dengan bentuk tubuh manusia asli meskipun mirip.

Mengapa ketika bentuk karya seni yang realistis tercapai lantas malah ditinggalkan? Jawabannya terletak pada kata exxagerate; melebih-lebihkan suatu bagian seperti pada bentuk karya yang lebih purba, patung Venus von Willendorf.

Praktik melebih-lebihkan aspek tertentu pada sebuah karya seni merupakan bentuk naluri purba untuk melebih-lebihkan sesuatu. Naluri yang katanya terpatri dalam otak manusia, pada sesuatu yang dianggap penting dalam hidupnya. Karya seni yang bukan representasi asli dari sebuah bentuk yang ada dalam kehidupan manusia diciptakan atas dasar naluri itu. Untuk apa? Mungkin, jawabannya adalah untuk menghadirkan perasaan menggugah, takjub; menghadirkan perasaan yang tidak biasa, tidak seperti yang dirasakan terhadap realitas. Apakah karena hal tersebut sesuatu kita katakan sebagai seni? Sesuatu yang memosisikan dirinya pada perbedaan penghadiran perasaan karena jika perasaan yang dihadirkan lewat karya seni itu sama seperti kita merasakan bentuk-bentuk realitas maka tak akan ada perbedaan antara seni dan bukan-seni. Praktik melebih-lebihkan itu pada dasarnya adalah upaya untuk menghadirkan perasaan berbeda dengan apa yang dirasakan dari alam nyata.

Lantas, apa maksud untuk menghadirkan perasaan berbeda itu—perasaan yang lebih itu? Salah satu maksudnya adalah karena apa yang manusia tuangkan dalam sebuah karya adalah sesuatu yang ia dambakan. Sesuatu yang tidak hadir di alam nyata yang ia harapkan. Melalui karya itulah manusia seakan dapat merasakan bagaimana perasaan jika dapat mencapai harapan dan dambaannya itu. Merasakan sesuatu yang pada kenyataannya tidak pernah ia capai. “Karena pada kenyataannya, kita manusia tidak menyukai kenyataan”.

Seni memang hadir dalam konteks budaya tertentu yang melatari sang seniman. Sebuah karya mewakili suatu aspek khusus dari kebudayaan. Seni selalu merepresentasikan sesuatu. Bentuk karya tersebut menjadi berbeda dengan bentuk-bentuk yang tidak dianggap seni karena kemampuan menghadirkan perasaan menggugahnya. Dalam film ini, dengan contoh citra tubuh manusia, pelebih-lebihan atas sesuatu—dalam sebuah karya—menjadi kunci dalam kemampuan menghadirkan perasaan menggugah.

Posted in Reviews | Tagged , , | Leave a comment

Alabatan Jahé

Pada satu malam yang cukup sepi di sebuah pelataran parkir Factory Outlet di jalan Riau, empat sekawan sedang ngobrol ngalor-ngidul tentang kahirupan sembari nyeruput bandrek dan kopi hitam. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Di sela hiruk-pikuk argumen yang saling berlintasan, tersebutlah satu pengibaratan yang sungguh bernilai bagi kahirupan. Dengan stelan seperti biasanya: posisi duduk di atas kursi dengan satu kaki seperti posisi sila dan yang satunya diangkat di atas kursi, tangan kanan memegang rokok, tangan kiri bersandar di atas lutut kakinya yang diangkat pada kursi—begitulah gaya sang elegan filsuf kita, Gabril. Sang filsuf lokal berucap (tentu dengan logat Sunda yang sangat kental sekental madu),

(dimulai dengan hentakan tangan kanan kepada tiga kawannya)

“yeuh, déngékeun, ari hirup mah kudu alabatan jahé!” (nih, dengerin, hidup itu harus ibarat jahe!)

Gelak tawa meletus dari ketiga orang kawan sang filsuf. Tawa yang diiringi dengan rasa ingin tahu,

“njir, naon deui eta bril alabatan jahé?” (njir, apa lagi itu, Bril, ibarat jahe?)

“maranéh nyaho pan jahé? Eta jahé téh tina bentuk teu mencurigakan. Diabuskeun ka cai keur jadi nginuman teu katempo nu rupa nu anéh-anéh. Tapi mun geus diinum, tah, karasa nyerang pan jahé téh. Nyereng pan tah di dieu téh (sambil menunjuk ke leher)” (kalian tahu kan jahe? Itu jahe dari bentuk tidak mencurigakan. Dimasukkan ke air untuk jadi minuman tak terlihat rupa yang aneh-aneh. Tapi kalau sudah diminum, nah, baru terasa “menyerang” itu jahe. Nyereng (bisa diartikan menggigit atau sangat terasa) kan di sini tuh (sambil menunjuk ke leher).”

Jadi begitulah, satu lagi petikan mutiara dari filsuf lokal kita. Hidup itu harus ibarat jahe. Tenang, tak mencurigakan, tapi ketika dirasa barulah tahu kalau itu pedas dan menyerang.

Posted in Uncategorized | Tagged | 1 Comment

Life in The Undergrowth (BBC Series)

“Jika kita dan semua hewan bertulang belakang lenyap seketika, seluruh dunia akan terus jalan baik-baik saja. Tapi, jika mereka lenyap, ekosistem daratan akan hancur.”

Sehari-hari, dalam kehidupan kita (manusia), serangga, cacing, siput, bekicot, dan kalajengking nampaknya dianggap sebagai makhluk hidup yang tidak penting-penting amat. Tubuhnya aneh—jika ditilik-tilik serupa dengan monster di film, hidupnya di tempat-tempat yang ngga bersih, seringkali jorok dan menjijikan, mengganggu, dan banyak lagi anggapan negatif lain. Apa yang kita pikir kalau melihat mereka? Kayanya semua makhluk mini itu layak disingkirkan jauh-jauh dari kita. Rasa nyaman nampaknya terganggu dengan keberadaan mereka itu.

Namun, sebetulnya, dalam pandangan yang lebih luas, secara ekosistem, anggapan itu keliru. Kutipan di atas yang keluar dari mulut sang narator, pasti bukan asal bicara.

Film ini menyajikan potret kehidupan hewan-hewan mini yang hidup di bawah dan permukaan tanah. Film ini adalah bagian dari seri dokumentasi natural BBC, ditulis dan dipresentasikan oleh David Attenborough, naturalis Inggris (dia juga antropolog loh). Sebenernya ini stok film udah lama, dan baru ditonton lagi. Aku selalu ingat temanku, Dani Tremor, kalau nonton film ini karena aku dapat film ini dari dia dan waktu kita nonton pertama kali keliatan si Dani suka banget dengan serangga.

Hal pertama yang menarik dari film ini adalah, teknologi lensa yang digunakan. Gambar yang bisa ditangkapnya detil banget, hewan-hewan yang umumnya berukuran kecil yang tampil itu jadi kelihatan besar dan jelas tekstur tubuhnya. Di bagian awal film, kamera ngerekam seekor lipan dan tekstur cangkang luarnya itu kelihatan jelas banget. Lalu, waktu bagian kutu loncat, yang panjangnya kurang dari setengah millimeter bisa tersajikan dengan jelas sampai keliatan bulu-bulu halus di permukaan tubuhnya. Canggih memang. Tubuh luar siput juga yang agak-agak sama seperti kontur kulit manusia (kalau dilihat secara detil), terus kaki lipan yang katanya seribu itu (karena memang banyak) ternyata terdiri dari dua pasang kaki yang jumlahnya banyak. Gerak-gerik mereka di tanah juga ditangkap dengan jelas. Jadi, kebayang, “dunia lain” yang dimaksud oleh film ini memang dunia lain yang memang jarang kelihatan oleh kita karena keterbatasan kemampuan visual kita juga.

Ada dua hal yang jadi sajian utama di film ini, yaitu perihal bagaimana mereka makan dan kawin (reproduksi). Dua hal itu memang yang elementer dalam hidup. Semua pasti tahu, tanpa makan dan kawin ga bakal ada kehidupan (mungkin karena itu ya, makan dan kawin—seks—itu emang enak banget). Sang narator nampaknya menekankan perbedaan antara proses makan dan kawin di dunia dalam air (kehidupan sebelumnya) dan di darat. Problem itu yang harus diatasi makhluk hidup agar bisa bertahan di lingkungan barunya, dalam hal ini darat. Jadi ia ingin memperlihatkan bagaimana hewan-hewan invertebrata itu mengembangkan cara mereka makan dan kawin di dunia daratan, untuk menunjukkan perbedaannya dengan di dunia dalam air karena perbedaan lingkungan tempat tinggal. Karena mereka adalah jenis hewan pertama yang mendirikan koloni di daratan bumi.

Tentang makan, hewan-hewan tersebut secara keseluruhan termasuk omnivora dan karnivora, bahkan ada yg keduanya. Satu contoh adalah cacing beludru. Itu cacing bentuknya agak mirip siput tapi permukaan tubuhnya diliputi tonjolan-tonjolan kecil yang rapih dan membuat dia terlihat bentolan sekujur tubuh. Ukurannya cukup besar dan panjang. Makanannya adalah jangkrik. Biasanya di berburu di malam hari. Jangkrik yang kesulitan melihat tidak dapat mendeteksi datangnya cacing ini dari jauh, padahal cacing ini baru bisa melancarkan aksi kalau sudah menyentuh mangsanya. Waktu untuk dia mendapatkan makanan sebenarnya cukup singkat, karena itu penyerangan harus dilakukan dengan sigap dan cepat. Dalam waktu yang singkat itu, cacing beludru sudah punya bekal senjata ampuh, yaitu cairan lengket yang ia semprotkan dari lubang di dekat mulutnya. Kalau jangkring sudah disemprot cairan itu, dia tidak bisa lari. Banyak bergerak malah membuat ikatan cairan lengketnya tambah kuat. Nah, dari situ sang cacing bisa makan dengan tenang.

Ada juga pemburu handal lainnya, yaitu lipan. Jangan salah, lipan ini sebesar tangan orang dewasa dan penjangnya sampai 35 inci. Karena itu, dia bisa makan kelelawar. Caranya, dia naik ke dinding gua lalu membebaskan sebagian tubuhnya lepas ke udara sementara tubuhnya ditopang oleh bagian tumbuh yang mencengkram dinding gua. Dengan posisi sebagian tubuh yang bebas itu, ditambah kakinya yang berderet banyak, dia bisa menangkap kelelawar yang dicengkram lalu digigit oleh taring berbisa pada mulutnya dan akhirnya bisa menyantap daging kelelawar itu sampai habis.

Hal kedua, kawin, hal yang paling romantis. Bagusnya film ini, dia bisa menyajikan peristiwa-peristiwa dengan balutan suara latar yang pas. Kesan yang tampil tidak jadi lebay dan terlalu dramatis, tapi sesuai. Sungguh apik. Nah, di bagian kawin ini suara latar yang sederhana tapi pas itu bisa membuat peristiwa nge-seks-nya serangga jadi romantis. Meskipun sebenarnya cara nge-seks mereka itu sendiri yang emang menakjubkan. Yang paling bikin takjub dari cara kawin hewan-hewan di film ini adalah perkawinannya keong leopard. Keong ini kawin dengan pasangannya yang juga sama (jantan) dengan cara bergelantung pada sebuah dahan. Jadi, mereka kawin di udara, lepas dari sandaran apapun selain dari cairan lengket tempat bergantung mereka berdua pada dahan. Dengan perlahan mereka saling melilit tubuhnya hingga erat, hingga bergelantung, lalu mengeluarkan alat kelamin mereka (yang sama itu) dan kedua alat kelamin itu saling melilit hingga membentuk seperti bunga berkuncup dengan kelopak yang mekar. Indah banget.

Oiya, ada kisah lucu juga, tentang kutu loncat. Jadi kutu loncat itu rentan banget terhadap kekeringan, sehingga mereka punya cara sendiri—mandi secara DIY (do-it-yourself). Mereka bisa mengeluarkan cairan dari tubuhnya yang mereka pakai sendiri buat membasahi seluruh tubuh, buat mandi. Cara mandinya itu lucu sekali, mereka punya semacam dua lengan di dekat kepalanya, lewat lengan itu mereka ngambil tetesan cairan yang keluar dari mulutnya lalu dibilas-bilas ke seluruh bagian tubuh. Selain itu, kita juga bisa tahu kenapa mereka dipanggil si kutu loncat. Mungkin ada yang pernah ngalamin kesulitan waktu mau menghamtan kutu karena mereka loncatnya cepet banget. Ternyata, mereka itu bisa loncat bukan karena kekuatan kaki mereka, tapi mereka punya seperti ekor yang berfungsi jadi pegas yang bisa bikin mereka loncat. Gaya loncatnya pun dengan berputar balik, seperti peloncat indah dengan gaya loncat ke arah belakang badan. Keren.

Singkat kata, ini film dokumenter yang canggih, informatif, dan menghibur. Asyik ditonton.

Posted in Reviews | Tagged , | Leave a comment

surat buat yang baru

Antara bulan Juli-September, seperti sekarang ini, adalah masa penantian para lulusan SMU yang akan memasuki gerbang kuliah. Ah, film kenanganku berputar, masa-masa ini adalah masa yang bisa dibilang indah dan menyenangkan: setiap hari aku mabuk (dengan beragam media pula), setiap hari aku dan teman-temanku berkumpul, kadang ada yang buka baju tengah malam, guling-gulingan di tanah, keliling kota malam hari, membuat arena dansa mandiri di sekolah, bernyanyi bersama…semuanya hampir selalu bersenang-senang.

Bulan pertama masuk kuliah pun itu menyenangkan. Meskipun harus kompromi dengan kebiasaan penerimaan mahasiswa baru, sebutlah ospek, toh tetap berjalan menyenangkan: banyak kenalan baru, plus banyak pula prasangka atawa dugaan terhadapnya. Pengalaman dan kebersamaan baru mulai dirajut.

Tahun pertama, overall, menyenangkan juga. Banyak waktu luang. Banyak waktu dihabiskan dengan senang-senang. Namun, di lain waktu, pengalaman-pengalaman sunyi dan getir pun perlahan menggerogoti dalam rupa aneka pertanyaan tentang diri, tentang hidup, tentang masa lalu, masa kini dan masa depan. Mendorong diri untuk mencari karena sepertinya memang ada yang harus dicari.

Begitulah, waktu bergulir. Di setiap periode selalu ada yang berubah, entah itu teman, kampus, keluarga, juga akhirnya pasti diri sendiri. Dan kini, tibalah aku di penghujung masa kuliahku. Zaman keemasan kata temanku Dipo yang baru saja melepas zaman emasnya. Aku tahu zaman emas itu pun tak akan lama lagi ada dalam genggamanku.

Dan, dalam kondisi seperti ini, rasanya aku hanya ingin kembali ke masa lalu. Ke permulaan zaman keemasan.

Sebetulnya bukanlah sebuah ketidaksenangan untuk berada di masa ini, di periode yang sedang kualami. Selalu ada kesenangan bahkan di situasi paling gawat sekali pun. Namun hanya karena rasa tak puas hati untuk merengkuh cakrawala zaman keemasan yang membuatku ingin ke masa lalu. Karena di masa kini, aku tahu ternyata banyak hal yang belum aku lakukan. Aku menjadi sedemikian sadar bahwa ada yang alpa dari masa laluku. Dan kesempatan yang menurutku baik untuk melakukan apa yang aku sesalkan kini itu ada di masa lalu itu, di masa awal kuliah.

Intinya, aku hanya ingin curhat kepada orang-orang yang kini statusnya mahasiswa baru. Terutama mahasiswa antropologi yang satu perguruan denganku. Jikalau ini perkataan bisa jadi hadits, aku bisa sangat bersyukur: Sering-seringlah kalian jalan-jalan (traveling). Lakukanlah sebuah perjalanan, alangkah baik jika bersama-sama, temuilah satu tujuan dan belajarlah di tempat itu. Tinggallah bersama orang-orang di tempat tertuju itu, mengikuti roda kehidupan mereka, mencoba merasakan bagaimana hidup bersama mereka, belajar apapun yang ditemui. Setiap kalian memiliki waktu luang, berkumpullah. Lakukan sebuah perjalanan dan tinggalkan sebuah catatan tentangnya. Janganlah banyak-banyak di kamar kosan, apalagi internetan. Jangan banyak-banyak juga main ke mall, kata nenek kurang sehat. Jangan banyak juga nongkrong-nongkrong ga jelas di suatu tempat, mendingan bergerak. Dan yang terakhir, banyaklah membaca buku etnografi yang rame-rame itu.

Karena bagiku saat ini, pengalaman nyata-lah yang banyak beri pelajaran. Pengalaman yang langsung dirasakan.

Akhir kata, janganlah banyak dipercaya omongan ini karena bisa-bisa bikin sesat. Tapi, tak ada salahnya juga pesan dari omongan ini dicoba, siapa tahu perkataan ini mengandung kebenaran barang setitik.

Iron & Wine – Fever Dream

Posted in Uncategorized | Leave a comment

winching the night away

Pada suatu malam, di tengah sebuah keributan, dalam sebuah pandemonium, aku menutup mata dan mendengarkan dengan khusyuk nada-nada anggun dan indah yang ia mainkan. Setiap sentuhan jarinya pada tuts piano membawa sebentuk gambaran pada ruang gelap yang kulihat. Ia membawaku pada khayalan manis yang bergerak seperti sebuah film. Aku merasakan cahaya yang keluar dari proyektor, memutar sebuah cerita yang dituntun oleh sentuhan lembutnya. Aku menemukan tempat penuh senyum dan udara segar yang dapat kuhirup dalam pandemonium ini. Aku melupakan segala bentuk kehancuran. Aku tak lagi melihat kekacauan sebagai sebuah kehancuran, aku melihatnya sebagai pembangunan hasrat yang bergelora. Aku melihat kehancuran memancarkan sinar yang cahayanya terasa lembut. Cahaya lembut yang menyelimuti tubuhku, bahkan seluruh duniaku. Aku melihat diriku menoleh ke belakang saat dirinya yang mengenakan gaun putih sedang berjalan menuntunku. Suara klip dari rol film yang sedang berputar terdengar jelas olehku. Aku membuka mata, menyadari bahwa aku berada dengannya. Kedua lengannya, jemarinya masih memainkan sebuah bangunan bunyi yang sanggup membuatku merasa sangat tenang dan damai. Jemarinya yang menyentuh tuts piano seperti seorang dewi yang meneteskan kemakmuran pada bumi. Sangat lembut dan perlahan-lahan. Ia penuh dengan kasih sayang. Dan saat nada terakhir berbunyi di dalam pandemonium ini, wajahnya menolah ke belakang, ke arahku; dia terlihat seperti bidadari.

winching the night away (piano)

Posted in Uncategorized | Leave a comment