Waktu itu malam minggu. Ordo Sabtu Suci baru saja melepas lelah, lapar, dan dahaga. Berlima, mereka duduk di tengah taman dengan sorot lampu yang hanya satu: membiarkan angin memberi sedikit bagian darinya untuk dihirup.
Untung masih banyak misteri yang bertebaran di dunia, dalam hidup ini. Kadang mata memang tak sengaja menangkap secuil misteri-misteri yang bertebaran itu. Aku melihat sudut tangga kecil di taman yang sedikit berserakan daun kering dan beberapa helai plastik chiki. Ada yang jarang sekali kutemui: koloni semut yang sedang berburu makanan. Betapa beruntungnya. Hari itu, tidak hanya di dunia kata secuil cahaya berhasil disingkap, alam sungguh indah dengan beragam kehidupan di dalamnya yang berhasil ditangkap kedua bola mata.
Dari sudut tangga, segerombol semut keluar dari sarangnya untuk mengejar sejenis belalang yang lari menghindar. Potret kehidupan yang indah disimak hadir, untungnya tidak dalam kotak TV lagi. segerombol itu berlarian cukup kencang, namun masih memiliki jarak untuk menyergap serangga itu. Bantuan datang, tanpa komando yang kami dengar, dari berbagai arah di jalan setapak. Kawanan semut lainnya menyergap dari arah samping dan depan. Serangga itu mulai payah. Sepertinya gigitan-gigitan semut memang ampuh. Gerombolan dari arah sarang akhirnya berhasil menyergap serangga, ditambah bala bantuan yang terpencar dari arah lain. Namun, serangga itu masih berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari sergapan gerombolan semut yang, sepertinya, lapar itu. Apa daya, semakin banyak sengatan dan gigitan yang sang serangga terima, semakin lemahlah ia. Akhirnya serangga itu tersungkur juga. Hanya sesekali tubuhnya bergerak: bahasa perpisahan yang getir. Gerombolan semut sudah berhasil menguasai buruannya. Serangga itu sudah tak bergerak. Kami yang tidak tahu apa-apa mengira serangga itu sudah mati dan kini giliran bagaimana gerombolan semut membawa tubuh serangga itu untuk diolah menjadi makanan bagi koloninya.
Kami, manusia, tidak mengetahui bagaimana semut mengorganisir kegiatan berburunya. Dalam hening konsentrasi kami, sesekali keluar kelakar, “woi komandonya mana ya?”, “roger…roger…buruan tumbang, sisi kanan angkat kepala..sisi kiri bagian kaki…”. Tawa menyelingi khidmat dan rasa syukur kami kepada alam. Saat itu sungguh tenang, tanpa beban. Di saat pikiran kami bertualang ke lembah dan puncak gunung kering, melihat dan mengalami berbagai kejadian pilu dan membuat sakit hati, dan kembali ke lorong kosong di mana kami bercerita, kesal, dan mengutuki semua yang kami benci.
Nampaknya gerombolan semut telah mengambil posisi untuk mengangkut buruan. Mereka berputar-putar di tempat buruan tumbang, mencari jalan untuk membawanya ke sarang mereka. Kami makin memperhatikan, mengambil jarak dan posisi nyaman untuk mengamati kejadian ini. Mereka masih saja berputar-putar di tempat yang sama, kadang buruang diarahkan ke kiri dan mulai berjalan namun seketika malah berbalik arah. Oh, kami, manusia, mengira mereka mencoba mencari jalan yang lapang untuk ditempuh. Logika manusia kami berbicara: daripada menempuh jalan penuh halangan lebih baik menempuh jalan yang tanpa halangan, bukan? Tapi, dasar manusia, logika itu tak berarti buat para semut. Mereka malah mengambil jalan yang dipenuhi rumput dan daun-daun kering. Tentu itu jalur yang sulit ditempuh, apalagi dengan bawaan yang jauh lebih besar dan berat dari mereka. Kami pikir, begitulah alam bergerak, seluruhnya diliputi misteri bagi kami. Kami pikir, dengan logika tadi, alangkah egoisnya manusia. Sepertinya alam memiliki jalannya sendiri. Oh, bukankah itu yang manusia coba selama ini untuk disingkap melalui ilmu pengetahuan? Ketika salah satu dari kami berkata, “eh, coba bantu singkirin halangan si semut itu”, yang dijawab, “jangan, biarin aja mereka punya caranya sendiri, kita kan gatau apa yang mereka pikirin”, saat itulah ada yang mengena dalam hati. Mereka, para semut, punya cara hidup sendiri, yang mungkin telah dan selalu mereka lakukan sepanjang keberadaan mereka di bumi ini. Sedangkan kami, manusia, memang punya cara dan jalan sendiri juga untuk hidup, tapi dengan banyak menghancurkan dan mengorbankan makhluk hidup lain. Tidak hanya makhluk hidup lain, bahkan sesama manusia sendiri. Sedangkan mereka, para semut, sejauh pengetahuanku, dengan cara dan jalan yang ditempuh tanpa merusak alam tempat mereka hidup. Sejauh pengetahuanku selama aku hidup, tidak pernah ada kerusakan alam yang dilakukan oleh semut. Melihat semut-semut itu berjuang untuk membawa buruannya, aku berpikir, memang kitalah manusia yang aneh. Para semut melakukan hal itu sepanjang keberadaannya. Dalam sebuah ekosistem, makhluk hidup mempunyai cara hidup dan bentuk adaptasi masing-masing dalam menyelaraskan diri dengan dan perubahan di alam. Tapi manusia, agak aneh. Ia punya cara hidup dan bentuk adaptasi juga, menyelaraskan diri dengan alam juga, sekaligus berkontribusi besar sekali dalam perubahan, perusakan, yang terjadi di alam. Aku terkesan tak membela manusia? Oh, lihatlah apa yang manusia perbuat semenjak 10.000 tahun yang lalu. Lihatlah yang manusia perbuat semenjak revolusi industri. Lihatlah yang manusia perbuat semenjak mereka tahu dalam perut bumi terdapat minyak dan materi berharga lainnya. Oh, belalah manusia, wahai diriku. Memang manusia juga berusaha berbuat baik pada alam. Ya, banyak usahanya. Dan kebanyakan karena ulah merusak yang manusia sebabkan.
Aku mencoba membayangkan bumi ini sebelum manusia ada. Memang terjadi perubahan-perubahan lingkungan yang radikal. Dari rimba tropik menjadi gurun. Dari daratan menjadi lautan. Dari yang rindang jadi kering kerontang. Tapi, kupikir begitulah gerak alam. Seluruh komponen hidup yang ada di bumi ini menyesuaikan diri dengannya. Termasuk manusia. Manusia yang menurutku egois dalam bertindak. Lantas, apa memang begini, seperti yang telah terjadi saat ini yang disebut cara hidup dan adaptasi manusia? Apa memang harus membuahkan kerusakan pada yang mereka tinggali? Aku rasa ini sungguh aneh. Sangat aneh. Dan manusia sungguh egois hanya karena mereka berpikir mereka berkuasa atas alam saat ini. Oh, malang. Cobalah lihat sejarah bumi, baru berapa lama sih manusia hidup? Baru berapa lama manusia berhasil „menaklukkan“ alam? Baru berapa lama manusia bisa membuat bangunan super-megah dan raksasa? Tak seberapa dibanding dengan umur bumi, tak secuil dibanding dengan umur alam semesta. Dan hanya di waktu-waktu yang singkat itulah, yang hanya sekitar 100-200-500 tahun manusia sombong dan berlaku angkuh terhadap makhluk hidup lain dan bumi.
Sudah lebih dari satu jam semenjak perhatian kami tersita pada usaha gerombolan semut untuk memindahkan buruannya. Selama satu jam itu, mereka hanya berputar-putar di tempat, paling banter jalan beberapa langkah, itu pun dengan arah yang blah bloh melulu. Seorang teman bicara, “eh, ini bisa semaleman loh mindahin buruan ke sarangnya”. Perlu waktu lama dan rasa sabar yang cukup untuk mengamati satu kejadian saja. Lelah dan kantuk mulai menyerang kami, apalagi bagi yang harus pulang menempuh jalur balap truk jalan raya Bandung-Sumedang di malam hari. Seorang teman berkelakar lagi, “woi jangan-jangan mereka sebenernya punya armada angkutan khusus yang ngangkut buruannya..mereka malu aja kali klo kelihatan ama kita…kebayang dong bakal cengo…itu ntar bakal jadi berita top di dunia anjir”, yang lain menimpali, “tapi pasti ga ada yang percaya, paling-paling nganggap kita gila….hahaha, ya emang gila kalo itu beneran ada”.
“…tidak pusing dengan segala derita, tidak punya tujuan apapun juga” Richard Dawkins




